Skip to main content

FSPIM Demands Fair Wage Increase in Mining Sector

Macet di Bahodopi Sampai Sekarang Mengganggu Aktivitas Buruh

Hingga saat ini macet di Bahodopi belum bisa teratasi.

foto: macet di sekitar Rusun Labota

Malam ini salah seorang buruh anggota kami mengeluhkan perihal macet di Bahodopi. Pasalnya ia mau pulang kerja, perutnya sudah di-miscall — tanda sudah begitu lapar. Tapi macet belum kunjung selesai.

Macet malam ini terjadi sejak jam 17.15 hingga berita ini ditulis pada jam 20.10 WITA. Berarti sudah 3 jam lebih para buruh dihadapkan dengan macet ini.

Kemacetan di Jl. Trans Sulawesi ini tercatat sejak kawasan PT. IMIP berdiri. Berbagai berita di media sudah memuatnya, tapi tak ada jalan keluar serius dari PT. IMIP. Tak jarang buruh atau warga setempat mengalami kecelakaan juga karena macet ini.

Jl. Trans Sulawesi merupakan jalanan umum, yang, sebenarnya tak boleh digunakan sebagai kepentingan swasta — dalam hal ini PT. IMIP. Idealnya PT. IMIP mesti memiliki jalanannya sendiri. Sebab, yang melintasi Jl. Trans Sulawesi bukan hanya pekerjanya, tapi juga warga dan para pengendara yang melintas dari Sulawesi Tengah ke Sulawesi Tenggara atau sebaliknya.

UUD No. 38 Tahun 2004 pasal 1 ayat (5) menyebutkan bahwa “jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum”.

Selain karena tidak punya jalan sendiri, kondisi macet ini juga dipengaruhi oleh sistem kerja 3 shift 3 regu. Sistem tersebut berlaku sejak zaman Covid-19. Tetapi perusahaan masih menggunakannya terus sampai sekarang. Idealnya, menurut kami yakni sistem kerja 3 shift 4 regu dan 2 shit 3 regu saja. Tapi, ya, perusahaan tidak menggubrisnya.

Dampak dari macet ini membuat buruh jadi stress di jalan — karena sudah capek kerja — eh pulangnya lagi harus menunggu macet. Waktu bersama keluarga jadi semakin minim, perhatian ke istri/suami dan anak jadi teralihkan dengan waktu istirahat. Selain itu waktu ibadah juga jadi terganggu: tak jarang buruh-buruh jadi tak ibadah karena macet ini.

foto: bing.com

Tak heran, dalam hampir di setiap may day (hari buruh sedunia), ada poster yang bertuliskan “kurangi bekerja, perbanyak bercinta.” Karena memang buruh sudah tidak punya waktu luang untuk urusan reproduksi, sudah terlanjur lelah seperti yang terjadi di Bahodopi saat ini.

Sudah lebih dari satu dekade kawasan PT. IMIP berdiri (2013), dengan cuan bertrilyun-trilyun, tapi kenapa urusan macet saja tak bisa diatasi? Kami mengeluhkan ini pertanda kami ingin ada perbaikan signifikan, bukan sekedar perbaikan jalan yang rusak, tapi buat jalur alternatif atau sistem kerja kami diperbaiki.

Kalau macet teratasi, kan yang untung juga PT. IMIP beserta tenant-tenantnya. Kami para buruh juga jadi bisa semakin produktif, warga setempat pun juga bisa lebih mobile beraktivitas.