Pada 1 Mei 2026 lalu Federasi Serikat Pekerja Industri Morowali (FSPIM) menggelar aksi serentak dalam peringatan hari buruh sedunia (may day) di 3 daerah. Aksi ini mengangkat beragam masalah ketenagakerjaan baik yang terjadi di 1) Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah, 2) Kota Palu (Sulawesi Tengah) dan 3) Kabupaten Halmahera Tengah (Maluku Utara). Di Morowali dan Palu, FSPIM menggelar aksi may day hingga 2 kali.
Kami selaku Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FSPIM Bidang Kampanye-Propaganda yang bertanggung jawab atas publikasi, tidak sempat memuatnya di website fspim.org ini pada saat hari aksi atau di hari yang berdekatan. Hal ini dikarenakan kami sibuk mengorganisasi aksi may day tersebut. Kami hanya menyajikannya dalam bentuk publikasi yang telah dimuat di media massa.
Mohon maaf atas keterlambatan informasi yang kami sajikan ini, baik kepada buruh-buruh yang telah tergabung ke dalam FSPIM maupun buruh-buruh yang baru jadi fans-nya FSPIM, serta kepada publik secara umum yang terus ingin mengetahui perkembangan lebih lanjut dari gerakan FSPIM.
1. Aksi di Kabupaten Morowali
Berikut ini merupakan publikasi dari beritaformat.com, yang memuat aksi FSPIM Dewan Pimpinan Cabang Morowali. Dalam aksi tersebut FSPIM tergabung dalam aliansi Gerakan Persatuan Buruh Morowali (GPBM). Di dalam aliansi GPBM tersebut terdiri dari FSPIM, SBIPE, dan FSPMI.
Publikasi lain bisa dilihat di koranperjoeangan.com dan mitrapers.onenews.co.id. Sementara di platform media sosial bisa dilihat dalam akun IG morowali_iinfo.
Berikut liputan dari beritaformat.com tersebut:
Ratusan massa yang tergabung dalam Pergerakan Persatuan Serikat Morowali menggelar aksi unjuk rasa di depan kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Jumat (1/5/2026), bertepatan dengan momentum Hari Buruh Internasional (May Day).
Aksi yang dipimpin Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM) bersama KPBI itu menyoroti sejumlah persoalan ketenagakerjaan yang dinilai belum mendapat perhatian serius dari manajemen kawasan industri tersebut.
Koordinator lapangan aksi, Raden Amar, menyatakan kekecewaannya terhadap pihak manajemen IMIP yang dinilai belum merealisasikan tuntutan buruh, khususnya terkait hak-hak normatif pekerja.
“Kami sangat kecewa. Tuntutan buruh tidak dipenuhi. IMIP tidak menunjukkan komitmen membangun hubungan industrial yang harmonis, bahkan serikat pekerja kerap dipandang sebelah mata tanpa ada titik temu,” tegas Raden Amar dalam orasinya.
Ia juga menyoroti kondisi di dalam kawasan IMIP yang disebutnya masih jauh dari standar ideal, terutama dalam penerapan norma ketenagakerjaan.
“Penegakan undang-undang ketenagakerjaan di kawasan ini sangat lemah. Kecelakaan kerja masih sering terjadi, konflik hubungan industrial juga terus berulang,” tambahnya.
Dalam aksinya, massa menyampaikan berbagai tuntutan, di antaranya peningkatan sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3), penghapusan sistem outsourcing, pemberian bonus tahunan, transparansi penilaian kinerja, hingga penghentian dugaan praktik union busting di sejumlah perusahaan dalam kawasan IMIP.
Selain itu, buruh juga mendesak perbaikan fasilitas kerja seperti klinik kawasan, transportasi, parkiran, hingga akses WiFi bagi pekerja. Mereka juga menuntut percepatan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode 2026–2027 serta peningkatan kesejahteraan secara merata.
Raden Amar menegaskan, apabila tuntutan tersebut tidak segera ditindaklanjuti, pihaknya akan melakukan konsolidasi untuk menggelar aksi yang lebih besar.
“Jika tidak ada realisasi, kami akan turun dengan massa yang lebih besar demi memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan buruh di kawasan IMIP,” tandasnya.
Aksi May Day ini berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan menjadi sorotan sebagai bentuk tekanan kolektif buruh terhadap perusahaan dalam menciptakan kondisi kerja yang lebih adil dan manusiawi.
***
Setelah mendapatkan ketidakjelasan, FSPIM DPC Morowali kembali menggelar aksi jilid II. Aksi ini dilakukan di depan kantor Morowali pada 04 Mei 2026. Namun, dalam aksi kali ini FSPIM sudah melakukan aksi solo, dikarenakan serikat lain dalam aliansi tidak ikut lagi.
Berikut ini merupakan publikasi dari keuangannews.id, yang memuat aksi tersebut. Publikasi lain bisa dilihat di radarpalu.jawapos.com, khabarnews.id, mitrapers.onenews.co.id, beritaformat.com, dan lampumerah.co.id.
Berikut liputan dari liputan keuangannews.id tersebut:
KNews.id – Jakarta – Ratusan massa dari Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka–Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (FSPIM-KPBI) kembali menggelar aksi unjuk rasa dalam rangka May Day jilid II di kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Morowali, Bungku, Senin (4/5/2026).
Aksi tersebut dilakukan secara mandiri tanpa keterlibatan serikat pekerja lainnya, dengan membawa sejumlah tuntutan yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan buruh dan penguatan peran pemerintah daerah dalam pengawasan ketenagakerjaan.
Massa aksi berangkat dari sekretariat FSPIM di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, sekitar pukul 08.00 Wita dan tiba di Bungku setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam.
Setibanya di lokasi, massa terlebih dahulu mendatangi kantor pengawas ketenagakerjaan (Wasnaker). Namun, mereka mendapati kantor tersebut dalam kondisi tertutup dan tidak beraktivitas, meski bertepatan dengan hari kerja.
Koordinator lapangan, Sarwan, kemudian mengarahkan massa untuk melanjutkan aksi ke depan Kantor DPRD Morowali. Di lokasi tersebut, massa menyampaikan aspirasi secara terbuka, termasuk melakukan aksi simbolik pembakaran ban sebagai bentuk protes.
Sekretaris Jenderal FSPIM, Jay, dalam orasinya menyoroti lemahnya pengawasan ketenagakerjaan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait. Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada berbagai persoalan buruh yang belum terselesaikan.
“Dinamika perburuhan di Morowali sangat kompleks, terutama di kawasan industri. Pemerintah daerah dan pengawas ketenagakerjaan harus lebih tegas dalam mengambil kebijakan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya respons cepat dari pemerintah daerah dan DPRD terhadap tuntutan yang disampaikan. Menurutnya, solusi konkret sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi para pekerja.
FSPIM-KPBI menyatakan akan mempertimbangkan aksi lanjutan dalam skala lebih besar apabila tuntutan mereka tidak segera direspons.
“Kami akan melakukan konsolidasi untuk aksi yang lebih besar jika tidak ada solusi. Ini demi memperjuangkan hak-hak buruh dan mewujudkan kesejahteraan serta keadilan,” tegas Jay.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan situasi secara umum tetap terkendali.
2. Aksi di Kabupaten Halmahera Tengah
Berikut ini merupakan publikasi dari wartarepublik.com, yang memuat aksi FSPIM Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Halmahera Tengah. Dalam aksi tersebut FSPIM tergabung dalam aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat Halteng. Publikasi lain bisa dilihat dari liputan jendelahukum.net dan akulturasipost.com.
Berikut liputan dari wartarepublik.com tersebut:

Halmahera Tengah, Wartarepublik.com – Hari Buruh Internasional (May Day) yang diperingati setiap 1 Mei merupakan momentum penting bagi kelas pekerja di seluruh dunia. Momentum ini menjadi simbol perjuangan melawan kondisi kerja yang eksploitatif, jam kerja panjang, serta upah yang tidak layak. Dari sejarah panjang tersebut, lahir berbagai tuntutan universal seperti pengurangan jam kerja, perlindungan tenaga kerja, serta pengakuan hak-hak dasar buruh.
3. Aksi di Kota Palu
Berikut ini merupakan publikasi dari globalsulteng.com, yang memuat aksi FSPIM di Kota Palu. Dalam aksi tersebut FSPIM tergabung dalam aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa (BURASA), sebuah aliansi bersama organisasi mahasiswa dan NGO, individu-individu, serta elemen rakyat lainnya. Aksi FSPIM bersama BURASA tersebut digelar dengan melakukan longmarch dari Taman Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) hingga ke depan kantor gubernur Sulawesi Tengah.
Publikasi lain bisa dilihat dari publikasi radarpalu.jawapos.com, media.alkhairaat.id, hariansulteng.com, tadulako.id, radarnasional.net, beritapalu.id, tribunpalu.com, tribuanamuda.com, dan kabarsulteng.id.
Berikut liputan dari globalsulteng.com tersebut:

GLOBALSULTENG.COM – Aksi unjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day dilaksanakan di depan Kantor Gubernur Sulteng, Jl Sam Ratulangi, Kota Palu pada Jumat, 1 Mei 2026.
Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa menyampaikan berbagai tuntutan terkait kepastian kerja hingga peningkatan kesejahteraan pekerja sambil membakar ban.
Koordinator Lapangan (Korlap) Fajar mengatakan dampak konflik global berpotensi memicu peningkatan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Selain itu, mereka meminta untuk menghapus sistem kerja alih daya (outsourcing), menolak upah murah dan menuntut perlindungan pekerja.
“Perusahaan mengorbankan manusia demi angka keuntungan. Setiap kecelakaan kerja bukan takdir, melainkan hasil kelalaian sistematis perusahaan,” kata Fajar dalam orasinya.
Mereka juga menolak diskriminasi dan kekerasan di tempat kerja terhadap buruh perempuan serta meminta penghentian terhadap eksploitasi berkedok program magang mahasiswa yang menjadikan generasi muda sebagai tenaga kerja tanpa hak.
Unjuk rasa sempat memanas saat massa aksi mulai mendekati pagar Kantor Gubernur Sulteng. Sejumlah aparat kepolisian yang berjaga termasuk Wakapolda Sulteng dan Kapolresta Palu masuk dalam kerumunan massa. Para personel itu akhirnya diusir oleh massa aksi.
Ketidakhadiran Gubernur Sulteng Anwar Hafid dalam aksi May Day 2026 di Kota Palu tersebut pun memantik kekecewaan para massa aksi. Mereka juga menolak melakukan audiensi melalui Video Call (VC) bersama Anwar Hafid.
Menurut Fajar, perlakuan Gubernur Anwar Hafid terhadap mereka telah menodai aksi May Day. Massa aksi memberikan tenggat waktu 2X24 jam kepada Anwar Hafid agar melakukan audiensi dan mengundang seluruh pihak terkait.
Mereka mangancam akan membawa massa aksi yang lebih besar, apabila audiensi tersebut tidak dilakukan.
***
Setelah melakukan aksi pertama, aliansi BURASA kembali menggelar aksi jilid II. Karena merasa bahwa pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah belum serius merespons tuntutan buruh yang disuarakan saat peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026.
FSPIM lalu melakukan konferensi pers pada Kamis 07 Mei 2026. Pernyataan FSPIM bersama aliansi BURASA bisa dilihat di publikasi infosulteng.com, tribunpalu.com, media.alkhairaat.id, hariansulteng.com, dan jurnalnews.id.
Setelah konferensi pers, FSPIM bersama BURASA menyelenggarakan aksi jilid II pada 12 Mei 2026. Berikut merupakan publikasi dari beritaformat.com mengenai aksi tersebut. Publikasi lain juga bisa dilihat di tribunpalu.com, lampumerah.co.id, dan jurnalnews.id.
Berikut liputan dari beritaformat.com tersebut:
Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi BURASA (Buruh dan Rakyat Berkuasa) menggelar aksi demonstrasi jilid II di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Selasa (12/5/2026). Massa terdiri dari serikat buruh FSPIM, mahasiswa dari berbagai kampus di Sulawesi Tengah, serta pegiat lingkungan.
Dalam aksinya, massa menyoroti maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kebijakan merumahkan karyawan di sejumlah perusahaan industri, khususnya di kawasan Morowali dan Morowali Utara.
Orator aksi, Komang Jordi Sigara, menyebut pemerintah daerah dinilai belum serius melihat persoalan buruh yang terus terjadi di tengah aktivitas industri yang berkembang pesat.
“Ada sekitar 200 pekerja terdampak di PT RJS dan PT MIM. Alasannya efisiensi, tapi di sisi lain perusahaan masih membuka rekrutmen baru. Ini menjadi tanda tanya besar,” tegas Jordi di hadapan massa aksi. Selasa (12/5/2026).
Massa juga mendesak Gubernur Sulawesi Tengah turun langsung menemui buruh di kawasan industri Morowali dan Morowali Utara untuk menyelesaikan berbagai persoalan ketenagakerjaan bersama serikat pekerja.
Tak hanya itu, aksi yang bertepatan dengan peringatan tragedi Trisakti tersebut juga dijadikan momentum kritik terhadap kondisi nasional yang dinilai masih dibayangi krisis politik, ekonomi, hukum, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Koordinator lapangan aksi, Fajar, menegaskan pemerintah tidak boleh hanya fokus pada kawasan industri besar, tetapi juga harus memperhatikan nasib buruh di Kota Palu yang selama ini dinilai luput dari perhatian.
“Buruh pergudangan, cafe shop, hingga pekerja pertokoan juga bagian penting penggerak ekonomi daerah. Banyak dari mereka punya anak yang masih sekolah dan hidup dari upah harian,” ujarnya.
Aksi demonstrasi sempat diterima Wakil Gubernur Sulawesi Tengah. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa Gubernur Sulawesi Tengah berjanji akan menemui buruh di Morowali pada 13 Mei 2026 mendatang.
0 thoughts on “Bagaimana Aksi May Day FSPIM Di 3 Daerah?”