Ekologi Kelas Pekerja[1]
“Perjuangan lingkungan tanpa perjuangan kelas hanya seperti aktivitas berkebun saja!” [Chico Mendes, Ketua Serikat Pekerja Penyadap Karet (1944–1988)]

Perbedaan mendasar antara manusia dengan hewan adalah — manusia dapat mengubah alam — dan hewan hanya sekadar menikmatinya saja. Manusia bahkan dalam taraf tertentu bisa menggunakan alam demi kepentingan menguasainya. Perbedaan ini tidak terjadi begitu saja, tapi melalui perkembangan sejarah.
Pada tahap awal perkembangan sejarah, perbedaan antara manusia dan hewan hampir sulit dibedakan. Ini dikarenakan aktivitas manusia jaman purbakala hidupnya berdampingan langsung dengan hewan-hewan di hutan. Awalnya keduanya sama-sama menikmati hasil alam melalui berburu. Namun, seiring dengan meningkatnya peradaban manusia, mereka kemudian menjadi terbiasa untuk menjelaskan tindakan-tindakan mereka melalui pikirannya dengan merenung, serta perlahan-lahan mengubah aktivitasnya.
Perlahan tapi pasti, manusia mulai melakukan aktivitas sadar dan terencana. Sementara kehidupan hewan tetap begitu-begitu saja, hanya sekadar menyesuaikan dengan alam. Dengan begitu, manusia dan hewan kemudian “terpisah”. “Semakin jauh manusia terpisah dari hewan-hewan, semakin besar efek mereka atas alam memperoleh sifat aksi yang disengaja, yang direncanakan yang mengarah pada tujuan-tujuan tertentu yang diketahui sebelumnya.”[2]
Manusia dapat melakukan semua itu oleh karena satu hal: aktivitas kerja. Sebab hanya melalui kerja, manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, sesuai naluri alamiahnya untuk bertahan hidup. Karena kerjalah manusia dapat secara sadar mengubah objek di sekitarnya menjadi sesuatu yang lain seperti inginnya, dan bahkan menjadikannya sebagai kekayaan materiil. Inilah yang membuat sejarah peradaban manusia, atau dalam kata lain kerja itu sendiri yang menciptakan (peradaban) manusia. Itu juga yang bikin manusia disebut “membuat sejarahnya sendiri”, meski tak membuatnya dengan sesuka hati.
Konsep ekologi
Manusia dan hewan merupakan bagian dari alam itu sendiri. Alam disini bukan hanya soal hutan, sungai, danau, laut, dsb. Tapi merupakan satu kesatuan ruang yang terjadi dalam alam semesta, baik sebelum peradaban manusia lahir maupun sesudahnya. Hubungan organisme (manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan) dengan lingkungan sekitarnya ini disebut sebagai ekologi. Hubungan tersebut mempunyai sifat timbal balik, saling mempengaruhi satu sama lain.
Faktor terbesar yang mempengaruhi alam yakni, akibat hubungan sosial antar manusia dan lebih dari itu: guna meraup keuntungan bagi manusia-manusia tertentum dalam hal konteks sekarang yakni pemilik alat produksi (kapitalis). Pelajaran tentang ekologi mengajarkan kepada kita, “tiada sesuatu pun dalam alam terjadi secara terisolasi atau kebetulan.”[3] Pernyataan tersebut menghadapkan kita pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah banjir di Bahodopi hanya karena merupakan intensitas curah hujan yang tinggi?[4]
2. Mengapa sampai ada istilah Penyakit Akibat Kerja (PAK)?
3. Kenapa pada tahun 2023 di Kab. Morowali pengidap ISPA telah mencapai 61 ribu orang, dan Puskesmas Bahodopi menjadi yang terbanyak (49.792)?[5]
4. Kenapa tahun 2024 kasus HIV dan banyaknya sampah di Kec. Bahodopi mencapai urutan pertama?[6]
5. Kenapa warga Labota menuntut ganti rugi atas kerusakan lingkungan kepada PT. IMIP?
Jika kita sudah bisa menjawab pertanyaan di atas, sebenarnya kita secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan ekologi yang mendasar.
Sebelumnya kita telah menyinggung bahwa manusia dalam tahapan tertentu — mengubah alam baik secara sadar atau pun tidak — demi kepentingan meraup keuntungan. Dan itu terjadi saat masyarakat berkelas lahir, lahirnya para manusia penindas dan para manusia tertindas. Di era sekarang, sistem kapitalisme, penindasan bukan hanya terhadap manusia tapi juga merusak lingkungan. Selagi kapitalisme ada, kelas pekerja dan lingkungan akan terus dieksploitasi.
Apa Kepentingan Kelas Pekerja Dalam Perjuangan Lingkungan?
Karena kapitalisme adalah biang keroknya, maka kita tidak bisa menyimpulkan bahwa banyaknya sampah yang berserakan di jalanan Bahodopi hanya karena “kurangnya kesadaran” akan pentingnya membuang sampah di tempatnya, dan bukan karena PT. IMIP tidak peduli dengan tata kelola lingkungan yang bersih dan rapi. Atau seringnya banjir dan cuaca tidak menentu di Bahodopi karena “sudah menjadi takdir alam” dan bukan karena masifnya penebangan hutan sekitar, serta pengerukan ore besar-besaran di pegunungan Kab. Morowali dan Morowali Utara.
Selain itu, adanya penyakit ISPA di Bahodopi bukan hanya karena masifnya pembangunan PLTU Captive di kawasan PT. IMIP yang jumlahnya mencapai 20 unit dengan kapasitas 5.570 mw itu.[7] Tetapi, lebih daripada itu pembangunan PLTU ini guna menyukseskan proyek para kapitalis, yakni hilirisasi nikel untuk proyek kendaraan listrik. Suatu proyek yang konon bisa mengurangi emisi karbon akibat penggunaan bahan bakar fosil.
Disitulah letak kontrakdiksinya dalam sistem kapitalisme. Di satu sisi para kapitalis mendengung-dengungkan “penyelamatan lingkungan” melalui proyek kendaraan listrik. Namun, di sisi lain dalam rangka “tujuan mulianya” untuk “menyelamatkan lingkungan” itu, tetap saja menghalalkan segala cara dengan tetap menggunakan PLTU yang berbahan bakar batu bara. Toh mereka tetap saja merusak lingkungan.
Pemerintah Indonesia bahkan sempat menandatangani Perjanjian Paris (Paris Agreement), yang isinya konon untuk mengatasi perubahan iklim. Tapi, ya, toh tetap saja dilanggar dengan membangun banyaknya PLTU Captive. Tak hanya itu, limbah FABA (Fly Ash dan Bottom Ash) sudah dikategorikan sebagai bukan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) berdasarkan PP Nomor 22 tahun 2021 silam. Meskipun FABA telah membuat banyak kematian rakyat sekitar PLTU akibat terkena kanker paru-paru dan juga membuat ikan-ikan di laut mati.[8]
Kerusakan lingkungan itu sendiri yang paling merasakan dampaknya, selain warga non pekerja industri, ya, kita-kita sebagai kelas pekerja. Pasalnya, mulai dari kos/rumah, di jalanan ke tempat kerja, sampai di dalam kawasan — tetap merasakan debu batu bara — misalnya seperti terjadi di Bahodopi. Itu artinya kita sebenarnya sangat berkepentingan dalam hal menghadapi kerusakan lingkungan yang ada saat ini.
Di kawasan PT. IMIP kelas pekerja kerap kali mengalami Penyakit Akibat Kerja (PAK). PAK ini disebabkan oleh berbagai macam hal. Seperti waktu kerja yang tinggi akibat banyaknya lembur, area kerja yang kotor, terkena paparan bahan kimia, kebisingaan, beban kerja yang berlebihan, hingga stress akibat atasan yang terlalu menekan.
Seringkali kita melihat dan mendengar, bahwa perjuangan kelas pekerja hanya untuk mendorong pemenuhan hak-hak pekerja dalam ruang lingkup lingkungan kerjanya saja. Seperti upah layak, kondisi dan waktu kerja layak, dsb. Semua ini sah-sah saja, bergantung kebutuhan dan terutama kesanggupan organisasi dalam mengelola isu-isu yang dihadapinya.
Namun, dalam taraf tertentu perjuangan kelas pekerja sejatinya tidak bisa terpisahkan dengan perjuangannya mengubah lingkungan. Tidak hanya lingkungan di pabrik atau kawasan, namun juga lingkungan dalam makna luas: yakni bumi manusia dan seisinya. Sebab kelas pekerja telah menghadapi sistem kapitalisme yang telah mendunia.
Belakangan kita melihat bahwa perjuangan gerakan kelas pekerja terpisah dengan perjuangan gerakan lingkungan rakyat sekitar. Misalnya saat warga Labota aksi di kawasan, masih belum terjalin solidaritas dari serikat-serikat pekerja yang ada dalam bentuk aksi bersama. Begitu pun sebaliknya, ketika serikat-serikat pekerja yang ada di kawasan PT. IMIP melakukan aksi menuntut perbaikan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), belum ada solidaritas aksi dari warga setempat.
Jika kita perhatikan kedua gerakan ini mempunyai kepentingan yang sama, yakni terkait lingkungan, sama-sama merasakan dampak dari debu batu bara yang membuat penyakit ISPA itu. Hal ini tentu menjadi PR ke depan bagaimana agar kelas pekerja di kawasan PT. IMIP memperjuangkan lingkungan bersama warga sekitar, dan hanya dapat dilakukan ketika kita terus belajar memahami apa yang telah sistem kapitalisme perbuat untuk kita saat ini.
Sejarah May Day membuktikannya, bahwa kelas pekerja tidak hanya menuntut terkait persoalan upah dan jam kerja layak. Tapi juga menuntut lingkungan kerja yang sehat dan hal ini telah dicapai oleh gerakan kelas pekerja pada tahun 1886. Kita bisa melakukannya perlahan dan terus menuntutnya, sebab sejarah perubahan hanya bisa dilakukan oleh rakyat pekerja yang tidak memisahkan perjuangan satu dengan yang lainnya.
[1] Materi ini diterbitkan oleh Bidang Bacaan DPP SPIM-KPBI saat Sekolah Buruh yang ke-2 pada 2024.
[2] Friedrich Engels, dalam Peranan Yang Dimainkan Kerja Dalam Peralihan Dari Kera Ke Manusia, 1876
[3] Ibid
[4] Banjir di area pabrik smelter PT. IMIP pada 25 April 2023 disebut oleh Polres Morowali karena hujan lebat. (tutura.id, 28 April 2023)
[5] TribunPalu.com, 29 Desember 2023
[6] Radar Sullteng, 9 September 2024
[7] Data Walhi Sulteng yang dirilis pada 29 September 2024
[8] 82 persen perusahaan batu bara di Indonesia letaknya di wilayah pesisir (kompas.com, 28 Maret 2023)