Skip to main content

Buruh PT ECB Meninggal Tertimpa Besi Gegara Kelalaian Managemen

Kita hanya mau bekerja dengan aman, sehat, serta sejahtera.

Seorang buruh bernama Moh. Narto meninggal dunia gegara tertimpa besi. Narto bekerja di PT Ekspres Cahaya Bintang (ECB), divisi instalasi, pada hari Rabu 13 Mei 2026.

Pekerjaan Narto adalah melakukan pemotongan besi. Saat hari kejadian, Narto sedang memotong besi HBIN (sebuah penampungan) menggunakan oxy (bubuk) sekitar jam 16.50 WITA.

Di saat waktu istirahat untuk pulang, Narto ditemani oleh dua rekan kerjanya. Saat itu Narto bersama satu rekannya sedang berada di posisi atas tumpukan besi HBIN enam susun. Tingginya kira-kira sekitar 2 meter.  Sementara, satu rekan lainnya lagi berada di bawah untuk mengawasi.

Di tengah Narto berada di atas tersebut, tiba-tiba saja tumpukan besinya sedang bergerak dan goyah. Menyadari hal ini, Narto dan rekannya langsung berusaha melompat untuk menghindar karena besihnya akan roboh.

Rekan Narto melompat lebih dulu. Di saat bersamaan Narto juga berusaha melompat. Namun tumpukan besi tersebut seketika ambruk dan menimpanya, ia tertindis dan tidak sadarkan diri.

Kemudian rekan Narto yang di berada di bawah, bergegas lari melapor kepada atasan serta memanggil rekan kerja lain yang berada di lokasi kerja lainnya untuk meminta bantuan pertolongan.

Narto lalu langsung dievakuasi dan dibawa ke dalam ruangan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Setelah dicek kesadaran dan detak nadinya, Narto sempat tersadar sejenak menarik nafas dan seolah ingin berbicara. Namun ia tidak sempat berbicara dan  kembali tidak sadarkan diri. Lalu pihak safety beserta atasan dan rekan Narto mengecek kembali detak nadi korban.

Naas. Ternyata Narto telah meninggal dunia. Ia mengalami luka memar, patah tangan, patah kaki dan patah tulang rusuk sesuai bekas yang ada ditubuhnya. Narto–sebagai korban fatality–ini lalu dilarikan ke klinik 1 IMIP untuk dievakuasi dan diberikan penanganan lebih lanjut.

Korban kemudian diberangkatkan pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Toli-Toli sekitar pukul 21:00 lewat. Kepulangannya dikawal oleh pihak keluarga beserta pihak manajemen IMIP dan manajemen PT. ECB.

Dari hasil kronologi kejadian terhadap Narto di atas, terlihat jelas terdapat kelalaian dari pihak manajemen tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), baik dari PT IMIP selaku pemilik kawasan, maupun dari PT ECB selaku tenant. Kelalaian tersebut terlihat dalam jobdesk kerja yang beresiko tinggi, dan tidak adanya pengawasan khusus dari pihak pengawas serta safety yang bertugas pada hari itu.

Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM), menuntut kepada pemerintah agar segera mengaudit dan mengevaluasi manajemen K3 di kawasan  IMIP secara umum dan secara khusus terhadap PT ECB. Tagar #HargaNikelLebihMahalDariNyawaPekerja yang telah muncul beberapa tahun lalu seperti dianggap angin lalu oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan atas ambisi hilirisasi.

Tak hanya itu. Setelah beberapa kali kecelakaan kerja, manajemen IMIP dan perusahaan tenatnya juga tetap berproduksi meski sudah terjadi insiden sampai fatality. Seharusnya jika tak ada jaminan keselamatan, maka produksi harus dihentikan sementara dulu. No safety no production!

0 thoughts on “Buruh PT ECB Meninggal Tertimpa Besi Gegara Kelalaian Managemen”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *